Dua puluh empat- juli- dua ribu delapan belas
Adalah kali pertama saya bertemu dengan dia
Pertemuan biasa, tanpa terduga awalnya, apalagi diharapkan.
Hari ini.
Ruang rindu bertemu ingatan masa lalu.
Izinkan saya menceritakan dengan kembali memutar kenangan
bagaimana saya dan dia kala itu bisa duduk bersama.
Adalah kali pertama saya bertemu dengan dia
Pertemuan biasa, tanpa terduga awalnya, apalagi diharapkan.
Hari ini.
Ruang rindu bertemu ingatan masa lalu.
Izinkan saya menceritakan dengan kembali memutar kenangan
bagaimana saya dan dia kala itu bisa duduk bersama.
Kamis siang ditanggal 24 juli 2018.
Seperti biasa aku menjalankan rutinitas sebagai seorang
karyawan di salah satu bank BUMN, Bank Negara Indonesia. Hari ini, aku diminta
untuk membantu salah satu kantor cabang BNI yang berada di kawasan Bengkong,
walaupun sebenarnya kantor tempatku bekerja sesuai dengan SK ialah kantor
cabang BNI kawasan Mall Nagoya Hill. Hal ini tidak masalah, karena sudah
menjadi risiko untuk siap ditempatkan dimanapun, kapanpun.
Siang hari ini
cukup panas, bahkan aku yang berada di lantai 2 masih merasakan kegerahan. Nasabah
yang datang pun hari ini tak seramai seperti awal bulan. Ditengah jam kerja, tiba-tiba
sebuah notifikasi direct message
muncul dilayar handphone ku.
“dek dmana?”
Sebuah
pertanyaan yang sebenarnya sangat biasa namun jika diingat kembali di masa
selanjutnya cukup mengelitik.
Seseorang
yang mengirimkan pesan itu ialah kamu, seseorang yang tidak pernah ku sangka di masa selanjutnya bisa berhasil
mengalahkan hatiku, dengan segala pertahanan yang sudah ku coba bangun selama
ini, hanya karna aku tidak siap untuk patah kembali.
Kamu
memintaku untuk bersedia membantu dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh mentormu, tugas untuk berfoto. Sungguh, aku heran akan tugas yang kamu sampaikan. Selain itu, sebenarnya
aku tidak mengenalmu dengan baik, hanya sebatas tau siapa dirimu, jawabannya
pun hanya abang tingkatku di SMP-SMA. Tidak lebih dan tidak ada informasi lebih
yang aku ketahui.
Setelah
berbalas pesan melalui direct message di
instagram¸ akhirnya aku mengiyakan permohonan bantuan yang kamu tawarkan.
Mungkin kamu bingung kenapa aku mau membantumu? Kalau begitu, duduklah dengan
manis agar aku bisa menjelaskan alasanku mau berbaik hati membantu orang
sepertimu.
Pertama, kamu datang
meminta bantuan di kondisi yang tepat.
Baru saja beberapa
jam yang lalu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjadi seseorang yang
lebih terbuka kepada siapapun. Aku tidak ingin menjadi diriku yang kemarin,
dengan ketertutupan terhadap dunia luar hanya karena menjaga perasaan seseorang
yang akhirnya justru meruntuhkan perasaanku. Aku juga tidak ingin terus
tenggelam dalam lautan kesedihan setelah ditinggalkan karena segala yang sudah
berlalu sudah sebaiknya untuk diikhlaskan dan dijadikan sebuah pembelajaran.
Kedua, kamu
meminta bantuan di waktu yang tepat.
malam
dimana kamu mengajakku bertemu adalah malam dimana aku juga ingin bertemu
dengan beberapa temanku. Jadi, tidak masalah bagiku hanya sekedar membantumu
mengambil beberapa foto yang sama sekali tidak merepotkan, apalagi mengganggu
jam sibukku.
Ketiga, aku ingat
di Desember 2017 kamu pernah mengirimkan direct
message kepadaku seolah-olah kamu mengenalku.
Aku tidak
begitu ingat akan pesan yang pernah kamu kirimkan, yang pasti berawal dari assalamualaikum w w sampai dengan pertanyaan dimana aku bekerja dan berkuliah. Pesan
ini mengartikan bahwa mungkin kamu
mengenalku, sehingga yasudah tidak masalah membantu abang kelas sendiri. Lagi
pula, sepertinya kamu memang butuh bantuan.
Tiga alasan diatas aku rasa cukup menjawab
pertanyaanmu, dan mungkin juga
pertanyaan beberapa orang yang ingin tau.
Malam
ditanggal 24 juli 2018, setelah maghrib.
Kamu menemuiku dirumah salah satu sahabatku, sahabat
yang aku rindukan saat aku menulis tulisan ini. Kamu dengan seragammu terlihat
sangat rapi, sedangkan aku sangat berantakan. Bahkan disaat kamu memasang wajah
dengan senyum yang sangat welcome,
justru dibalas olehku dengan wajah berantakan yang masih belum bersih dari make up kerja siang tadi. Ah…. tapi
tidak masalah, kamu bukan orang penting yang aku sukai apalagi aku harapkan, sehingga
tidak penting juga bagiku untuk berpakaian rapi apalagi memasang wajah terbaik
hanya untuk bertemu denganmu.
Aku berusaha mencairkan suasana, kamu berusaha
tertawa. Pandai sekali kita berdrama malam ini.
Setelah bertemu dengan temanku, kamu meminta aku
memberikan ide dimana sebaiknya kita mengakhiri perjalanan untuk mengisi perutmu.
Karena kasian, cacing-cacing di perutmu sudah berdemo menuntut hak nya untuk
diberi asupan. Akhirnya Mega legenda,
menjadi alternative pilihan.
Sepanjang malam kamu banyak tertawa, banyak juga
diamnya. Ruang mobil ini hanya diisi
kerecehanku, ketawamu, pertanyaanmu, jawabanku dan sekali dering telfon di hp
mu yang tidak kamu angkat.
Kita akhirnya berhenti di suatu tempat. aku memesan
sate taichan kesukaanku, kamu memesan mie pedas yang aku lupa secara jelas apa
nama mie nya, yang pasti butuh waktu lama untuk kamu habiskan dengan alasan
kepedasan. Ayolah, semua orang juga tau, namanya mie pedas ya pasti pedas. Kamu
seperti anak TK yang polos saja.
Selama makan, pikiran ku selalu bertanya, “kapan foto nya? Kenapa tidak membahas itu?” karena sungguh aku ingin segera pulang
dan menempelkan badanku diatas kasur yang empuk, nikmatnya. Tidak hanya itu, sebenarnya aku juga merasa sedikit was-was jika ada orang yang mengenal aku
ataupun kamu, melihat malam ini aku dan kamu duduk bersama. Eith…ini bukan
berarti aku menghindari seseorang atau bersembunyi dari seseorang, aku hanya menjaga
diriku dari mereka yang suka membuat issue
atau opini tanpa tau kebenarannya, apalagi hanya sekedar ikut-ikutan.
Setelah beberapa jam kita habiskan untuk berbincang
berbagai hal yang tidak begitu penting, akhirnya sesi foto yang menjadi tujuan utama kita terealisasikan. Kamu harus
mengucapkan banyak terimakasih kepada Mas
nya karena bersedia mengambil gambar aku dengan kamu, yang sebenarnya
bukanlah bagian dari pekerjaan dia. Tapi maaf,
aku tidak menyukai foto itu sebab latar belakang yang gelap menjadikan kualitas
hasil fotonya tidak begitu bagus, apalagi di foto itu wajahku benar-benar jelek
bahkan mau di edit sekalipun aku
yakin akan tetap begitu, huh.
Malam semakin larut sedang bintang semakin terang
menampakkan wujudnya yang indah. Suaraku yang sudah lelah mengucapkan lakon
drama malam ini memberikan sinyal untuk kita segera pulang mengakhiri temu malam ini.
Aku berpikir bahwa ini adalah temu pertama dan terakhir aku dengan kamu, duduk bersama pertama
dan terakhir aku dengan kamu. Kamu tau kenapa aku berpikir demikian? Sebab
tidak pernah sekalipun ada pikiran dalam diriku untuk menjalin kedekatan
denganmu.
Aku sangat-tidak tertarik denganmu malam ini, juga sebelumnya, dan
selanjutnya, sebelum kamu dimasa selanjutnya benar-benar tidak berhenti
berusaha hingga aku mengaku kalah, kamu menang atas diriku.
Malam di
desember 2019.
Saat aku menyelesaikan tulisan ini, aku begitu
merindukan-mu.
Mengingat bagaimana dulu kita begitu asing, bagaimana
aku sangat tidak menyukaimu, bagaimana perlakuan tidak baikku terhadapmu karena
sangat tidak ingin bersamamu, hingga waktu menggantinya menjadi bagaimana aku
bisa selalu bersama denganmu.
Berharap bertemu dengan kamu-telah menjadi rutinitas ku
saat ini.
Komentar
Posting Komentar